Sabtu, 4 Julai 2015

SHIKWA & JAWAB-I-SHIKWA, SIR MUHAMMAD IQBAL

SAJAK Shikwa ditulis pada tahun 1909 dan memaparkan pandangan Sir Muhammad Iqbal tentang kemunduran, kemiskinan dan kesengsaraan yang dilalui masyakarat Islam di India. Ini berbeza dengan kehidupan masyarakat bukan Islam (kafir, musyrik, penyembah berhala) yang menurut Iqbal dilimpahi kemewahan, kekayaan dan kesenangan (1983:41). Kehidupan baik yang menyebelahi masyarakat bukan Islam dianggap  sebagai ketiadakadilan (injustice) Allah SWT terhadap masyarakat Muslim India (1983:30). Pertimbangan ini didasarkan kepada pengamatannya terhadap usaha masyarakat Islam di India untuk beriman dan sedaya upaya mempertahankan agama Allah SWT melalui jalan peperangan, dan kesanggupan hidup dalam kemiskinan semata-mata untuk menyatakan keimanan kepada Allah SWT:

Who were the people who asked only for You and no other?
And for You did fight battles and travails suffers?
Whose world-conquering swords spread the might over one and all?
Who stirred mankind with Allah-o-Akbar’s clarion call?
Whose dread bent stone idols into fearful submission?
(183:37).


Empat tahun selepas penerbitan Shikwa yang menimbulkan kontroversi dan kecaman sebahagian ulama’, Iqbal menulis Jawab-i-Shikwa (1913), yang merupakan analogi jawapan Allah SWT terhadap persoalan-persoalan yang dibangkitkan dalam Shikwa. Dalam Jawab-i-Shikwa, Iqbal menjelaskan antara sebab kemunduran masyarakat Islam ialah pemahaman yang salah terhadap ajaran Islam yang sebenar. Ini merujuk kepada tindakan masyarakat Islam yang dilakukan bukan didasarkan kepada ilmu sebaliknya sebagai satu ikut-ikutan. Justeru, keimanan dan pengorbanan terhadap Islam yang dianggap telah sempurna itu adalah satu bentuk tipu daya kepada umat Islam sendiri. 

Antara perkara penting yang disifatkan sebagai punca kemunduran masyarakat Islam ialah perpecahan dalam kalangan umat Islam itu sendiri (1983:73). Berhubung perkara ini, Iqbal antaranya menyebut kehidupan masyakat bukan Islam yang dalam Shikwa diperakukan sebagai baik, sempurna dan membahagiakan terjadi antaranya disebabkan kecenderungan mereka mengamalkan ajaran yang terkandung di dalam Islam seperti perpaduan, saling memahami dan memaafkan:

You always quarrel among yourselves: they were kind and understanding.
You do evil deeds, find faults in others: they covered other’s sins and were forgiving
(1983:81).

Tiada ulasan:

Catat Ulasan