Rabu, 1 Disember 2010

CERITERA TENTANG GADIS KECIL DAN BIDADARI

GADIS KECIL berdiri di tepi pintu
wajahnya basah
dan ada getar pada tubuh.

Gadis Kecil melihat Bidadari, yang semakin hilang.
Perlahan-lahan naik ke langit
sirna, tanpa langsung menoleh ke belakang.

Gadis kecil tunduk, menekur lantai kusam.
Sesekali, dia merenung kelam suram
yang dimamah warni hitam di balik tubuh.

Gadis Kecil terasa lututnya menjadi goyah.
Dirinya semakin kecil, kerdil
makin kecil
semakin kecil
semakin kecil.

Bidadari sudah pergi dan berjanji
tidak kembali.
Gadis Kecil membantah,
dia belum betah sendiri.
Diam-diam, titis demi titis mengalir
pipi Gadis Kecil terus basah
sembap dan basah lagi.
Kata Bidadari satu ketika "Percayalah pada diri. Gadis Kecil tidak
kecil. Gadis Kecil sudah dewasa. Sudah kuat
menempuh hari muka. Beranilah, Gadis.
Susun langkahmu ke luar gapura. Di sana bahagia sudah menanti
untuk dirimu, jika kau mahu."

Tangan halusnya memegang jenang pintu
dalam esak tangis,
Gadis Kecil menjawab sendiri
"Dunia di luar itu menakutkan,
seperti yang selalu ada dalam sasakala penglipur lara."

Rintik tangis semakin luruh.
Gadis Kecil mengenang Bidadari
terus mengharap Bidadari kembali
pulang dan mendakap diri.
"Jangan biarkan aku sendiri!" Jerit Gadis, kuat di dalam diri.

Pipi Gadis Kecil basah lagi
Bidadari.
Bidadari yang mengajarnya untuk menangis
sedang dia dahulu tidak pernah menangis.
Bidadari,
Bidadari juga mengajar dia untuk berani
kata Bidadari "Hidup dalam takut bagai tangan menggores jiwa,
membiarkan hati bernanah dalam, pedih dan basah sentiasa,
terus berdarah, tidak akan sembuh. Gadis, harus berani."

Bidadari sudah pergi
tidak akan kembali
dan, tegar tidak akan kembali.

Gadis Kecil terasa kecil.
Namun, harap tetap ada
agar Bidadari memberi simpati
pulang kembali,
menemani dan melindungi
Gadis Kecil di pinggir sepi
di ruang kelam
tanpa jendela
yang ada, hanya gapura.

Gadis Kecil, melihat ke luar dengan aneka rasa
ada cahaya, ada lambaian warna
tangisnya menjadi sunyi
bisik Bidadari bergema dalam diri
"Bangkit wahai Gadisku, pandang ke depanmu.
Ada bahagia sedang menanti dan kau tidak akan sepi.
Cukup segala pesananku, ingatlah selalu.
Nyalakan nyali dirimu, kau tak akan terbungkam dalam kelam
melainkan, kau sendiri yang mahu terus terpinggir
dalam hitam ruang itu."

Gadis Kecil bangun perlahan-lahan
sedang getar lututnya masih ada,
tangan halusnya memegang jenang pintu,
kaki kanannya melangkah ke luar, meski berat dan payah
separuh dirinya sudah semakin hampir ke luar.
Gadis Kecil menoleh sebentar
panggilan kelam memagut jiwa
dia kembali memandang ke depan
terlihat cahaya dan bisik kata Bidadari
"Beranilah, Gadis."

1 ulasan:

  1. Salam.

    Wardah, be positive no matter what or how. Jika kita melihat dunia dengan hati yang lapang, maka lapanglah ia; begitu juga jika kita melihat dunia dengan hati yang sempit, maka sempitlah jadinya. Matematik yang mudah, bukan?

    Be strong!
    Wassalam.

    -kz

    BalasPadam